Rabu, 17 April 2013

Keanekaragaman Perubahan Proporsi Tubuh

Keanekaragaman Perubahan Proporsi Tubuh | Sewaktu masih anak – anak, bentuk tubuh kita tidak terlalu kentara perbedaannya, namun pada masa akhir kanak – kanak, saat mulai memasuki tahap remaja, perbedaan bentuk tubuh antara anak laki – laki dan anak perempuan semakin jelas. Remaja laki –laki cenderung menuju bentuk tubuh mesomorf (cenderung menjadi anak – anak yang kekar, berat dan segitiga), sedangkan anak perempuan kalau tidak endomorf (cenderung menjadi gemuk dan berat) akan memperlihatkan ciri ektomorf (cenderung kurus dan bertulang panjang).


Sekalipun demikian dalam kelompok anak laki – laki dan perempuan juga terdapat perbedaan, sehingga tidak dapat dikatakan harus selalu tepat sama. Pada kelompok anak laki – laki mungkin saja ada yang memperlihatkan bentuk tubuh ekomorf atau endomorf dan sebaliknya pada anak perempuan ada yang bentuk tubuhnya berbentuk mesomorf.

Seperti yang dikemukakan terdahulu, selama masa remaja ini seluruh tubuh mengalami perubahan, baik di bagian luar maupun di bagian dalam tubuh, baik dalam struktur tubuh maupun dalam fungsinya. Hampir untuk semua bagian, ternyata perubahan mengikuti jadwal waktu yang dapat diperkirakan sebelumnya.

Jadi, bila sistem endokrin berfungsi normal, maka akan memperlihatkan ukuran tubuh yang normal pula. Sebaliknya bila anak mengalami kekurangan hormon pertumbuhannya, maka akan menjadi kecil seperti orang kerdil, sedangkan yang kelebihan hormon pertumbuhan akan tumbuh menjadi terlalu besar sehingga tidak sesuai dengan anak sebayanya.

Keanekaragaman Perubahan Proporsi Tubuh


Kondisi-kondisi lain yang mempengaruhi pertumbuhan fisik anak, antara lain adalah:
1. Pengaruh keluarga
Pengaruh faktor keluarga di sini meliputi faktor keturunan maupun faktor lingkungan. Karena faktor keturunan, seorang anak dapat lebih tinggi atau panjang daripada anak lainnya sehingga ia lebih berat tubuhnya, jika ayah dan ibu atau kakeknya tinggi dan panjang. Faktor lingkungan akan membantu menentukkan tercapai tidaknya perwujudan potensi keturunan yang dibawa anak tersebut. Pada setiap tahap usia, lingkungan lebih banyak pengaruhnya terhadap berat tubuh daripada terhadap tinggi tubuh.

2. Pengaruh gizi
Anak - anak yang memperoleh gizi cukup biasanya akan lebih tinggi tubuhnya dan sedikit lebih cepat mencapai taraf remaja di bandingkan dengan mereka yang kurang memperoleh gizi. Lingkungan dapat memberikan pengaruh pada remaja sedemikian rupa sehingga menghambat atau mempercepat potensi untuk pertumbuhan di masa remaja.

3. Gangguan emosional
Anak yang terlalu sering mengalami gangguan emosional akan menyebabkan terbentuknya steroid adrenal yang berlebihan dan ini akan membawa akibat berkurangnya pembentukan hormon pertumbuhan di kelenjar pituitary. Bila terjadi hal demikian, pertumbuhan awal remajanya terhambat dan tidak mencapai berat tubuh yang seharusnya.

4. Jenis kelamin
Anak laki-laki cenderung lebih tinggi dan lebih berat daripada anak perempuan. Kecuali pada usia 12 dan 15 tahun. Anak perempuan biasanya akan sedikit lebih tinggi dan lebih berat daripada anak laki-laki. Terjadinya perbedaan berat dan tinggi tubuh ini karena bentuk tulang dan otot pada anak laki-laki memang berbeda dari anak perempuan.

5. Status sosial ekonomi
Anak-anak yang berasal dari keluarga dengan status sosial ekonomi rendah, cenderung lebih kecil dari pada anak yang berasal berasal dari keluarga yang status sosial ekonominya tinggi.

6. Kesehatan
Anak – anak yang sehat dan jarang sakit, biasanya akan memiliki tubuh yang lebih berat dari pada anak yang sering sakit.

7. Pengaruh bentuk tubuh
Bangun / bentuk tubuh, apakah mesamorf, ektomorf atau endomorf, akan mempengaruhi besar kecilnya tubuh anak. Misalnya anak yang bangun tubuhnya mesomorf akan lebih besar daripada yang endomorph atau anak yang ektomorf, karena mereka memang lebih gemuk dan berat.

Perubahan psikologi muncul antara lain sebagai akibat dari perubahan – perubahan fisik. Diantara perubahan – perubahan fisik itu, yang terbesar pengaruhnya pada perkembangan jiwa remaja adalah pertumbuhan tubuh (badan menjadi makin panjang dan tinggi), mulai berfungsinya alat – alat reproduksi (ditandai dengan haid pada perempuan dan “mimpi pertama” pada laki – laki), dan tanda - tanda kelamin kedua yang tumbuh.

Perubahan – perubahan fisik itu, menyebabkan kecanggungan bagi remaja karena ia harus menyesuaikan diri dengan perubahan – perubahan yang terjadi pada dirinya sendiri. Pertumbuhan badan yang mencolok misalnya, atau pembesaran payudara yang cepat, membuat remaja merasa risih dari teman – temannya. Demikian pula dalam menghadapi haid dan “mimpi” yang pertama, anak – anak remaja itu perlu mengadakan penyesuaian tingkah laku yang tidak ada dukungan dari orang tua.

Perubahan fisik hampir selalu dibarengi dengan perubahan perilaku dan sikap. Keadaan ini seringkali menjadi sedikit parah karena sikap orang-orang yang berbeda di sekelilingnya dan sikapnya sendiri dalam menanggapi perubahan fisik itu.

Dalam masa remaja, perubahan yang terjadi sangat mencolok dan jelas sehingga dapat menggangu keseimbangan yang sebelumnya sudah terbentuk. Perilaku mereka mendadak menjadi sulit diduga dan seringkali agak melawan norma sosial yang berlaku. Oleh karena itu, masa ini seringkali dinamakan sebagai”masa negatif’. Pada saat irama pertumbuhan sudah sedikit lambat dan perubahan tubuhnya telah sempurna, maka akan terjadi keseimbangan kembali.

Meskipun pengaruh pubertas terhadap anak-anak berbeda-beda, cara mereka melampiaskan gangguan ketidak seimbangan tampaknya sama. Beberapa bentuk pelampiasan yang dapat terlihat adalah mudah tersinggung, tidak dapat diikuti jalan pemikiran ataupun perasaannya, ada kecenderungan menarik diri dari keluarga atau teman, lebih senang menyendiri, menentang kewenangan (misalnya orang tua dan guru), sangat mendambakan kemandirian, sangat kritis terhadap orang lain, tidak suka melakukan tugas di rumah ataupun di sekolah, dan sangat tampak bahwa dirinya tidak bahagia.

Karena memang sedang terjadi perubahan kelanjar pertumbuhan yang menyebabkan terjadinya perubahan dalam bentuk dan ukuran tubuhnya, anak-anak remaja ini secara fisik seringkali merasa sangat tidak nyaman, misalnya ada keluhan, gelisah, nafsu makan berkurang, gangguan percernaan , sakit kepala, sakit punggung, dan sebagainya yang umumnya mencerminkan adanya perasaan tidak nyaman karena tubuhnya sedang bertambah panjang. Gangguan ini lebih banyak menghinggapi anak perempuan dari pada anak laki-laki, bahkan beberapa anak laki-laki sama sekali tidak merasakan hal-hal yang disebutkan diatas. Semua gangguan itu tampaknya tidak mendorong anak remaja berperilaku sesuai dengan harapan masyarakat. Pada saat ini, tampaknya hanya sedikit remaja yang mengalami kurang darah, yang lebih menonjol memang kurangnya nafsu makan, tetapi ini tidak mempengaruhi keadaan kimia darahnya. Bila sampai pada keadaan kekurangan darah maka anak akan megalami gangguan karena adanya ketegangan emosional.

Anak-anak remaja ini tampaknya juga terlalu memperhatikan keadaan tubuhnya yang mengalami proses perubahan. Tanggapan atas perubahan dirinya itu dapat digolongkan menjadi dua, yaitu mereka yang terlalu memperhatikan normal tidaknya dirinya dan mereka yang terlalu memikirkan tepat tidaknya kehidupan kelaminnya. Bila mereka memperhatikan teman sebayanya, kemudian ternyata dirinya berbeda dari mereka maka akan segera muncul pikiran tentang normal tidaknya dirinya. Misalnya, hanya berbeda dalam hal kecepatan pertumbuhan sudah dapat menimbulkan kekhawatiran dalam dirinya.

Bila mereka ketinggalan dari sebayanya dalam hal minat dan kegiatan lain, atau kurang berminat dalam kegiatan sebayanya, mereka lalu khawatir apakah mereka akan pernah menjadi dewasa.

Salah satu dari beberapa konsekuensi masa remaja yang paling penting adalah pengaruh jangka panjangnya terhadap sikap, perilaku sosial, minat, dan kepribadian. Kalau sikap dan kepribadian remaja kurang dapat diterima,yang sebenarnya merupakan salah satu ciri dari kehidupan remaja. Sejumlah studi telah menemukan bahwa ciri kepribadian dan sikap tertentu yang sudah terbentuk biasanya sulit dihilangkan.

Pengaruh ketidaknyamanan pada masa remaja yang paling menetap adalah peyimpangan usia kematangan kelaminnya. Bagi anak laki-laki yang mangalami perkembanagan kelamin lebih awal,secara sosial lebih menguntungkan sedangkan bagi anak perempuan tidak demikian halnya. Tinggi, berat badan, dan kekuatan tubuh yang jauh melebihi teman sebayanya bagi anak laki-laki akan dapat meningkatkan citra dirinya. Sebaliknya jika kematangan fisik ini terjadi pada anak gadis maka ia akan memperoleh sebutan yang tidak menyenangkan. Keadaan ini seringkali membawa pengaruh buruk pada anak perempuan baik di masa remaja maupun dikemudian hari. Anak perempuan yang termasuk lambat dalam kematangan kelaminnya biasanya akan terlepas dari masalah seperti itu,tetapi sebaliknya bagi anak laki-laki yang lambat kematangan kelaminnya ia akan kehilangan kesempatan untuk menaikkan citra dirinya, kurang dihargai, dan seringkali diabaikan.

Remaja yang banyak perhatiannya terhadap kelompok,perilaku remaja itu akan banyak dipengaruhi oleh perilaku kelompoknya. Jenis kegiatan kelompok itu seringkali ditentukan oleh kelompok itu sendiri, sehingga di samping banyak kegiatan yang bernilai positif juga terdapat kegiatan yang bernilai negatif. Kegiatan bernilai positif seperti olahraga, pramuka, seni, dan sebagainya dapat memupuk pertumbuhan fisik remaja sedangkan yang bernilai negatif seperti ngebut, begadang,minum-minuman keras, dan semacamnya akan menggangu kesehatan dan keselamatan. Dengan demikian, pengembangan kelompok remaja ke arah kegiatan positif oleh masyarakat, merupakan upaya mambantu para remaja dalam pertumbuhan fisik mereka.
thumbnail
Judul: Keanekaragaman Perubahan Proporsi Tubuh
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh

Artikel Terkait Kependidikan :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2013. About - Sitemap - Contact - Privacy
Template Seo Elite oleh Bamz