Kamis, 21 Maret 2013

Pendekatan Psikoanalisa

  pendekatan psikoanalisa

Psikoanalisis adalah suatu sistem dalam psikologi yang berasal dari penemuan-penemuan Freud dan menjadi dasar dalam teori Psikologi yang berhubungan dengan gangguan kepribadian dan perilaku neurotik. Psikoanalisis memandang jiwa manusia sebagai ekspresi dari adanya dorongan yang menimbulkan konflik.
Psikoanalisis sebagai teori dari psikoterapi berasal dari uraian Freud bahwa gejala neurotik pada seseorang timbul karena tertahannya ketegangan emosi yang ada, ketegangan yang ada kaitannya dengan ingatan yang ditekan, ingatan yang mengenai hal-hal yang traumatik dari pengalaman seksual pada masa kecil. Semula dipergunakan teknik hypnosis, namun setelah diketahui bahwa tidak terhadap semua orang mudah dan bisa dilakukan hypnosis, Freund menggunakan asosiasi bebas. Dengan asosiasi bebas pasien bebas untuk mengemukakan segala hal yang ingin dilakukan termasuk yang tadinya ditekan di bawah sadarnya tanpa dihambat ataupun di kritik.
Pendekatan psikoanalisis dalam konseling meresepsentasikan tradisi utama dalam konseling dan psikoterapi kontemporer. Konseling Psikoanalisis memberikan perhatian terhadap kemampuan konselur untuk menggunakan apa yang terjadi, dalam hubungan antara konseli dan konselur yang bersifat segera dan terbuka dalam rangka mengeksplorasi tipe perasaan dan dilema hubungan yang melibatkan kesulitan bagi konseli dalam kehidupan sehari-hari (McLeod, 2006, p. 90).
Pendekatan Psikoanalisis merupakan pendekatan yang banyak mempengaruhi timbulnya pendekatan-pendekatan lain dalam konseling.
Teori Psikoanalisis juga merupakan teori kepribadian yang paling komprehensif yang mengemukakan tentang tiga pokok pembahasan yaitu struktur kepribadian, dinamika kepribadian, dan perkembangan kepribadian (Alwisol, 2004, p. 15).
Psikoanalisis sering juga disebut dengan Psikologi Dalam, karena pendekatan ini berpendapat bahwa segala tingkah laku manusia bersumber pada dorongan yang terletak jauh di dalam alam ketidaksadaran. Selain itu, Psikoanalisis banyak digunakan secara bergantian dengan istilah Psikodinamik, karena menekankan pada dinamika atau gerak dorong mendorong antara alam ketidaksadaran da alam kesadaran, dimana alam ketidaksadaran mendorong untuk ke dalam alam kesadaran (Alwisol, 2004, p. 17).
Pendekatan psikoanalisis dikembangkan oleh Sigmund Freud (1856-1939). Freud menjelaskan istilah Psikoanalisis dalam arti yang berbeda-beda. Salah satu penjelasan yang terkenal terdapat dalam sebuah artikel yang ia tulis pada tahun 1923. Pada artikel tersebut ia membedakan tiga arti Psikoanalisis, yaitu :
• Istilah Psikoanalisis dipakai untuk menunjukkan suatu metode penelitian terhadap proses-proses psikis (misalnya mimpi) yang sebelumnya hampir tidak terjangkau oleh penelitian para ilmiah.
• Istilah ini juga menunjukkan suatu teknik untuk mengobati gangguan-gangguan psikis yang dialami oleh pasien neurosis. Teknik pengobatan ini bertumpu pada metode penelitian tadi.
• Istilah yang sama juga dipakai pula dalam arti luas lagi, untuk menunjukkan seluruh pengetahuan psikologis yang diperoleh melalui metode dan teknik tersebut diatas. Dalam arti terakhir kata Psikoanalisis mengacu pada suatu ilmu yang dimana Freud merupakan penemuan yang betul-betul baru.

Aliran Freudian memandang manusia sebagai makhluk deterministik. Menurut Freud, tingkah laku manusia ditentukan oleh kekuatan irasional, motivasi bawah sadar (unconsiousness motivation), dorongan (drive) biologis dan insting, serta kejadian psikoseksual selama enam tahun pertama kehidupan (Thompson, et. al., 2004, p. 77;Corey, 1986, p. 12). Insting merupakan pusat dari pendekatan yang dikembangkan Freud. Walaupun Freud pada dasarnya menggunakan istilah libido yang mengacu pada energi seksual, ia mengembangkan istilah ini menjadi insting seluruh energi kehidupan.
Insting-insting ini bertujuan sebagai pertahanan hidup dari individu dan manusia, berorientasi pada pertumbuhan, perkembangan dan kreativitas. Libido dipahami sebagai sumber motivasi yang lebih luas dari sekedar energi seksual. Freud memasukkan tingkah laku yang bertujuan mendapatkan kesenangan dan menghindari kesakitan merupakan libido (Corey, 1986, p. 12). Ferud juga mengemukakan tentang konsep insting mati (death instincts), yang berhubungan dengan dorongan agresif (aggresive drive).
Ia mengatakan bahwa manusia memanifestasikan insting mati (death instincts) ini melalui tingkah laku seperi keinginan bawah sadar untuk mati atau menyakiti diri sendiri dan orang lain. Freud percaya bahwa dorongan seksual dan agresif adalah kekuatan yang menentukan tingkah laku manusia (Corey, 1986, p. 12). Insting hidup (Life instincts), untuk mempertahankan hidup, berorientasi pada pertumbuhan, perkembangan, dan kreativitas. Semua tindakan bertujuan memperoleh kesenangan dan menghindari rasa sakit. Walaupun terdapat konflik antara life instincts (Eros) dan death instincts (Thanatos), individu bukan korban dari agresi dan self-destruction karena kedua insting tersebut. Pada buku Civilization and the Discontents (1930;1962), Freud mengindikasikan bahwa tantangan utama bagi manusia adalah bagaimana mengelola dorongan agresifnya (Corey, 1986, p. 12).
Selanjutnya, Freud melihat individu pada dasrnya adalah setan (evil) dan korban (victim) dari insting yang harus menyeimbangkan dengan kekuatan sosial untuk memberikan struktur dimana individu dapat berfungsi. Untuk mencapai keseimbangan, individu harus memiliki pemahaman mendalam tentang kekuatan yang memotivasi mereka bertingkah laku (Thompson, et. al., 2004, p. 77).
Menurut teori Psikoanalisis, konsep dasar manusia berputar sekitar psychic determinism dan unconcius mental proceseses. Psychic determinism berarti bahwa fungsi mental atau kehidupan mental merupakan manifestasi logis yang secara terus menerus dari hubungan kausatif antara keduanya. Menurut Freud, tidak satupun peristiwa terjadi secara random dan kebetulan, semuanya memiliki sebab dan akibat dari peristiwa yang terjadi. Selanjutnya, unconsious mental process adalah apa yang ada dalam pikiran dan tubuh yang tidak kita ketahui, dibawah level kesadaran, sehingga sering kali manusia tidak mengerti perasaan dan tingkah lakunya sendiri (Thompson, et. al., p. 78)
Ferud percaya bahwa konflik yang tidak terpecahkan, represi, dan free floating anxiety (kecemasan) pada umunya berjalan bersamaan. Kesakitan dan konflik tidak dapat diselsesaikan pada level kesadaran karena ditekan, dikubur dan dilupakan ke level unconciusness (ketidaksadaran), sehingga untuk menyelesaikan masalahnya hanya dapat dilakukan dengan membuka konflik awal. Hal ini dapat dilakukan dengan memamnggil kembali ingatan dan mengintegrasikan ingatan yang telah ditekan denga fungsi kesadaran individu yang memberikan simtom untuk sembuh dari free-floating anxiety (Thompson, et. al., 2004, p. 78).

Topografi kepribadian ``
Teori topografi merupakan teori psikoanalisis yang menjelaskan tentang kepribadian manusia yang terdiri dari sub-sub sistem. Bagi freud kepribadian itu berhubungan dengan alam kesadaran (awareness). Alam kesadaran terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu alam sadar (conscious/Cs), alam prasadar (preconsius/Pcs) dan alam bawah sadar (unconsciuos/Usc).
Alam sadar adalah bagian kesadaran yang memiliki fungsi mengingat, menyadari dan merasakan sesuatu secara sadar.
Alam prasadar adalah bagian kesadaran yang menyimpan ide, ingatan dan perasaan yang berfungsi mengantarkan ide, ingatan, dan perasaan tersebut ke alam sadar jika kita berusaha mengingatkanya kembali.
Alam bawah sadar adalah bagian dari dunia kesadaran yang terbesar dan sebagai bagian terpenting dari struktur psikis, karena segenap pikiran dan perasaan yang dialami sepanjang hidupnya yang tidak dapat disadari lagi akan tersimpan di dalamnya.


Struktur atau Organisasi Kepribadiaan
Menurut pandangan psikoanalisis, struktur atau organisasi kepribadian individu terbagi dari tiga sistem yaitu id, ego, dan superego. Pada orang yang dianggap sehat mental, ketiga sistem merupakan kesatuan organisasi yang harmonis.
Sehingga memungkinkan individu berhubungan dengan lingkungan secara efisien dan memuaskan. Bila ketiga sistem bertentangan satu sama lain, individu mengalami kesulitan penyesuaian diri. Tingkah laku manusia hampir selalu merupakan produk interaksi ketiga sistem tersebut (Corey, 1986, p. 12).

Id
Id merupakan sistem utama kepribadian. Ketika lahir manusia seluruhnya terdiri dari id. Id berisi segala sesuatu yang secara psikologis diturunkan, telah ada sejak lahir termasuk insting mempertahankan hidup (life instinct) merupakan dorongan seksual atau libido dan dorongan untuk mati (death instinct) merupakan dorongan agresi (marah, menyerang orang lain, berkelahi) (Corey, 1986, p. 13). Id merupakan tempat rahim berkembang.
Id adalah sumber utama dan reservoir atau cadangan dari energi-energi psikis dan merupakan penggerak ego dan superego yang berhubungan erat dengan proses-proses jasmani, dari mana energi berasal (Thompson, et. al., 2004, p. 80). Id disebut juga kenyataan psikis yang sebenarnya, karena id merupakan pencerminan penghayatan subyektif dan tidak mengenal kenyataan obyektif karena berada di level ketidaksadaran (uncounscious), irasional, dan tidak terorganisir. Id memiliki prinsip kenikmatan (pleasure priniciple). Hal ini berarti bahwa id akan berusaha menyalurkan ketegangan dengan segera dan mengembalikan keseimbangan, agar kembali pada keadaan tenang dan menyenangakan (Alwisol, 2004, p. 16-17;1986, p. 13)
 .
Untuk menghilangkan rasa sakit dan mendapatkan kenikmatan, id mempunyai dua proses, yaitu :

• Tindakan refleks
Tindakan refleks adalah reaksi otomatis dan bawaan, seperti bersin dan berkedip. Id tidak dapat membedakan antara realitas dan bukan realitas.
• Proses primer
Proses primer adalah menghentikan ketegangan dengan membentuk kahayalan tentang objek yang dapat menghilangkan ketegangan. Pengalaman dimana objek yang digunakan hadir dalam bentuk gambaran ingatan pemenuhannya hasrat (wish fulfullment). Proses primer tidak dapat menguragi ketegangan maka dibutuhkan proses sekunder ego (Alwisol, 2004, p. 16-17;Thompson, et. al., 2004, p. 80).

Ego
Ego merupakan bagian yang memiliki kontak dengan realitas dunia luar. Ia bertindak sebagai eksekutif yang mengatur, mengontrol, meregulasi kepribadian. Ego dapat dianalogikan sebagai polisi lalu lintas (traffic cop) untuk Id, Superego dan dunia.
Tugas utama ego adalah memediasi antara insting dengan lingkungan sekitar. Ego mengontrol kesadaran dan bertindak sebagai sensor (Corey, 1986, p. 13). Ego berfugsi untuk mewujudkan kebutuhan pada dunia nyata, dan mampu membedakan apa yang ada dalam diri dan luar diri yang disebut juga dengan proses sekunder. Ego memiliki tiga fungsi, yaitu :
1. Prinsip kenyataan (reality principles)
Prinsip ini bertujuan untuk mencegah terjadinya ketegangan sampai ditemukan objek yang sesuai.
2. Pengujian terhadap kenyataan (reality testing)
Berarti bahwa ego mengontrol semua fungsi kognitif dan intelektual, menyusun rencana pemenuhan kebutuhan, dan menguji rencana tersebut. Eksekutif kepribadian berguna untuk mengontrol pintu-pintu ke arah tindakan, memilih lingkungan, memutuskan insting mana yang akan dipuaskan, bagaimana cara yang digunakan untuk memuaskannya (Thompson, et. al., 2004, p. 80-81) kemudian mengintegrasikan tuntunan id, superegodan realitas.
3. Mekanisme Pertahanan diri ( Defense Mechanism)
Yaitu mengendalikan Id dan menghalau implus dan perasaan cemas yang tidak menyenangkan melalui strategi tingkah laku yang dipilih oleh individu yang temasuk dalam mekanisme pertahanan diri (Alwisol, 2004, p. 18). Strategi-strategi yang dilakukan individu dalam rangka mempertahankan diri akan dijelaskan lebih lanjut pada bagian selanjutnya.
Superego
Superego terdiri dari dua bagian yaitu :
1. Suara hati (conscience) yang merupakan sub-sistem Superego, berisi hal-hal yang menurut orang tua tidak baik dilakukan dan bila dilakukan mendapat hukuman.
2. Ego Ideal, yaitu wadah yang menampung hal-hal yang diharapkan untuk dilakukan dan bila dikerjakan mendapat hadiah. Dalam proses ini terdapat introyeksi yaitu proses masuknya suara hati (conscience) dan ego ideal yang berasal dari pendidikan orang tua ke dalam diri individu sehinggaa membentuk kontrol diri (Alwisol, 2004, p. 18;Thompson, et. al., 2004, p. 81)
Superego berfungsi merintangi impuls-impuls id, terutama impuls seksual dan agresif, mendorong Ego untuk menggantikan tujuan realistis dengan tujuan moralistis, mengajar kesempurnaan, dengan demikian seolah-olah superego selalu menentang Id dan Ego, serta selalu berusaha untuk membentuk bayangannya sendiri ( Alwisol, 2004, p. 18).
Menurut Freud, terdapat tiga kecemasan yang dapat dialami individu, yaitu:
a. Kecemasan realitas
Kecemasan yang dirasakan karena adanya ancaman yang nyata atau ancaman yang diperkirakan akan dihadapi di lingkungan. tingkat kecemasaan yang akan dirasakan adalah setimpal dengan ancaman yang ada atau diperkirakan. Contohnya merasa cemas untuk meninggalkan mobil yang baru dibeli di tepi jalan yang gelap dan sepi.
b. Kecemasan moral
Kecemasan yang dihasilkan dari hati nurani. Individu yang memiliki kata hati yang mantap dan mudah merasa bersalah jika melanggar norma dan nilai masyarakat. Misalnya merasa cemas akan kegagalan saat akan menghadapi ujian.
c. Kecemasan neurotik
Kecemasan yang muncul dari rasa bimbang karena tidak dapat mengontrol nuraninya sehingga menyebabkan ia melakukan sesuatu di luar kontrolnya. Keragu-raguan seperti ini seringkali tidak dapat dicari sumber penyebabnya. kecemasan neurotik ini bersifat tidak sadar (unconscious) (Loekmono, 2003, p. 7)
 
Dinamika Kepribadian
Manusia memiliki kebutuhan yang mendorong pada sesuatu tindakan atau menghambat tindakan tersebut. Dalam pemenuhan kebutuhan tersebut terdapat dinamika yang berbebentuk interaksi antara kekuatan-kekuatan psikis yang ada pada diri manusia, yaitu instink dan pertahanan (prochaska, 1984).
Pada prinsipnya manusia memiliki instink untuk mempertahankan dirinya, instink menjadi sumber energi psikis dalam mengarahkan tindakan memenuhi keinginan dan kebutuhanya.
Dalam proses interaksi itulah muncul kecemasan pada individu, yaitu perasaan kekhawatiran karena keinginan dan tuntutan internal tidak dapat terpenuhi dengan sebaiknya. Freud mengemukakan ada tiga bentuk kecemasahn pada individu, yaitu kecemasan realitas, kecemasan neurotik, dan kecemasan moral.
Kecemasan realitas (reality anxiety) merupakan kecemasan individu akibat dari ketakutan menghadapi realitas sekitarnya. Kecemasan neurotik (neurotic anxiety) merupakan kecemasan karena khawatir tidak mampu mengatasi atau menekan keinginan-keinginan primitifnya. Sedangkan kecemasan moral (moral anxiety) merupakan kecemasan akibat dari rasa bersalah dan ketakutan dihukum oleh nilai-nilai yang ada pada nuraninya.
Insting merupakan represensi psikologis yang dibawa sejak lahir yang mengacu pada keinginan (wish) yang merupakan bagian dari kebutuhan (need). contohnya lapar adalah kebutuhan (need) yang mengarah pada keinginan (wish) akan makan. Keinginan (wish) ini menjadi motif tingkah laku. Beberapa istilah yang digunakan dalam membahas dinamika kepribadian yaitu:
1. Libido adalah enegi yang memperoleh insting kehidupan bekerja.
2. Cathexis adalah mengarahkan energi libidinal manusia kepada objek, orang atau ideyang memuaskan kebutuhan.
3. Anticathexis adalah kekuatan yang digunakan oleh ego untuk menghalangi impuls dari Id. Reality principle dan superego mengarahkan tingkah laku Ego dan bertindak sebagai lawan dari pleasure principle dari Id (Thompson, et, al, 2004. p. 81)
Perkembangan Kepribadian
Teori genetik, berarti penjelasan tentang asal dan perkembangan fenomena psikis. Secara genetis perkembangan kepribadian berkembang melalui beberapa tahap, yaitu tahap oral, anal, falik, laten, dan genital. Secara singkat tahapan perkembangan ini adalah sebagai berikut.
a) Fase oral terjadi sejak lahir hingga akhir tahun pertama. Pada fase ini anak berkembang berdasarkan pengalaman kenikmatan eronik pada daerah mulut.
b) Fase anal sebagai fase kedua dalam perkembangan manusia. Fase ini terjadi mulai usia dua sampai akhir tahun ketiga. Perkembangan anak pada fase ini berpusat pada kenikmatan pada daerah anus.
c) Fase failik berkembang mulai usia empat hingga lima tahun. Pusat kenikmatan berpusat pada alat kelamin, yaitu penis pada anak laki-laki dan klitoris pada anak perempuan.
d) Fase genital terjadi pada masa pubertas yang ditandai oleh perilaku non narsistik. Mereka mulai tertarik lawan jenis, bersosialisasi dan beraktivitas kelompok, perkawinan dan membangun keluarga, menjalin hubungan kerja.
Psikoanalisis memiliki pendekatan yang unik dalam melihat perkembangan kepribadian manusia. Freud mengemukakan perkembangan psikoseksual yang merupakan dasar pemahaman terhadap permasalahan yang dialami oleh konseli.
Mekanisme Pertahanan Ego (Ego- Defense Mechanisms)
Mekanisme Pertahanan ego membantu individu mengatasi kecemasan dan mencegah terancammya ego. Pertahanan ego ( Ego-defense) merupakan tingkah laku normal karena ia memiliki nilai adaptif bila tidak menjadi gaya hidup dalam menghadapi realitas. Mekanisme pertahanan ego ( ego defence mechanism) memiliki dua karakteristik, yaitu : 1. menyangkal realitas atau, 2 mengganti realitas (distort-reality).
1. Represi (repression) dan supresi (suppression)
Represi adalah proses ego memakai kekuatan anticathexes menekan segala sesuatu (ide, insting, ingatan, pikiran) yang dapat menimbulkan kecemasan keluar dari kesadaran (Alwisol, 2004, p. 30). Represi mendorong memori, konflik, ide dan persepsi yang berbahaya dan mengancam ego dari alam kesadaran kea lam ketidaksadaran dan menempatkan penutup untuk mencegah hal-hal yang telah masuk ke alam ketidaksadaran muncul kembali. Dalam represi individu secara tidak sadar menghalangi pikiran yang menyakitkan dari memor. Sedangkan supresi (suppression) adalah usaha sadar untuk melakukan hal yang sama dengan represi (Thompson, et. al, 2004, p. 83).
Represi memiliki dinamika dengan pemindahan (displacement) seperti:
-Represi dan penempatan yang salah (displacement)
-Represi dan segala atau simton hysteria
-Represi dan gangguan psiko-fisiologis (psychophysiological disorder)
-Represi dan fobia
-Represi dan nomadisme
2. Pembentukan reaksi (Reaction formation)
Adalah tindakan defensif dengan cara mengganti impuls atau perasaan yang menimbulkan kecemasan dengan impuls atau perasaan yang berlawanan atau kebalikannya dalam kesadaran.
3. Proyeksi (Projection) adalah melakukan atribusi pada karakteristik orang lain di luar diri (Thampson, et, al., 2004, p. 83). Proyeksi disebut juga mekanisme mengubah kecemasan neurotic atau moral menjadi kecemasan realisti, dengan cara melemparkan impuls-impuls internal yang mengancam dipindahkan ke objek di luar, sehingga seolah-olah ancaman itu terproyeksi dari objek eksternal kepada diri orang itu sendiri.
4. Rasionalisasi (rationalisation) merupakan cara untuk memberi alasan-alasan yang masuk akal sebagai usaha untuk mempertahankan Egonya sehingga seolah-olah dapat dibenarkan.
5. Penempatan yang keliru (displacement) adalah mengarahkan energi dari objek utama ke objek pengganti ketika insting terhalangi (Thompson, et. al., 2004, p. 83) Cara ini dilakukan untuk menghadapi kecemasan dengan memindahkan pada Obyek”yang lebih aman”.
6. Fixasi dan regresi
Fixasi adalah terhentinya perkembangan moral pada tahap perkembangan tertentu karena perkembangan lanjutannya sangat sukar sehingga menimbulkan frustasi dan kecemasan yang lebih kuat.
7. Penyangkalan (denial) adalah menolak kenyataan, menolak stimulus atau persepssi realistik yang tidak menyenangkan dengan menghilangkan atau mengganti persepsi itu dengan fantasi atau halusinasi.
8. Introyeksi (introjection) adalah suatu bentuk pertahanan diri yang dilakukan dengan mengambil alih nilai-nilai dan standar orang lain baik positif maupun negative.
9. Identifikasi merupakan cara mereduksi ketergantungan dengan meniru (melakukan imitasi) atau mengidentifikasikan diri dengan orang yang dianggap berhasil memuaskan hasratnya disbanding dirinya.
thumbnail
Judul: Pendekatan Psikoanalisa
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh

Artikel Terkait Bimbingan Konseling :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2013. About - Sitemap - Contact - Privacy
Template Seo Elite oleh Bamz